Kata rebana, konon berasal dari kata “Robana”, yang berarti “Tuhan Kami”. Rebana biasanya disebut juga ”Terbang” dalam istilah Jawa.Instrumen rebana terbuat dari kulit kambing yang dikeringkan.Dahulu Rebana adalah salah satu sarana dakwah yang dikemas dan disajikan lewat lantunan syair dan alunan musik yang bernuansa Islami.Seni rebana tersebut berisi pesan-pesan mulia agar masyarakat mampu menerima dengan mudah isi yang terkandung di dalam seni yang dimiliki oleh rebana tersebut.

Sehingga sampai sekarang, kesenian ini pun sudah melekat pada masyarakat, khususnya para pecinta sholawat.Dahulu kala Rebana hanya ada dalam acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi di era sekarang ini hampir setiap mengadakan acara tasyakuran baik pernikahan, khitanan, kelahiran bayi dan acara-acara yang lainnya, masyarakat menggunakan rebana sebagai hiburan dan juga tuntunan.

Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, banyak ditemukan berbagai jenis alat musik baru yang kehadirannya diharapkan dapat menghibur para penikmat rebana sehingga tidak jenuh dalam mendengarkan kesenian yang satu ini.Gup Rebana Al Mukaromah milik Desa Kabuaran ini misalnya.Grup ini mengkolaborasikan instrumen rebana/terbang dengan ketiplak, keyboard (rhytm & melodi),bass jedor,tamborin, serta drum agar lebih berwarna dalam setiap penampilannya.

Berawal dari pertemuan muslimat yang diadakan setiap minggunya timbullah ide-ide cemerlang untuk membentuk grup rebana yang dipimpin oleh Bapak Turijan.Setelah dibentuk Grup,mereka yang beranggotakan 15 orang sepakat untuk latihan setiap minggunya.Dan dengan tekad dan kerja yang keras alhasil grup rebana Al Mukaromah bisa tampil di acara-acara hajat.Tak terasa sudah berjalan 5 tahunan sejak berdirinya Grup rebana ini.

Dalam perkembangannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.Banyak kendala-kendala yang mereka hadapi.Namun dengan jiwa yang optimis kini mereka bisa mempertahankan eksistensinya di jagad hiburan ini.Usahanya tak luput sampai itu saja,Grup ini sekarang juga mulai mengaransemen lagu-lagunya agar tidak terkesan membosankan.Terkadang juga menyajikan lagu dangdut,campur sari atas permintaan pendengar setianya.

Melihat potensi yang ada di dalam grup ini tidaklah heran jika semakin  banyak tawaran manggung yang mereka dapatkan.Apalagi jika di bulan-bulan Syawal,Besar,Sapar,dan Maulud tiba,jam terbang grup ini akan padat sekali tutur Bapak Turijan.Beliau juga menuturkan jikalau ada pihak-pihak yang ingin membantu demi perkembangan grup ini,akan kami terima dengan senang hati.Meskipun tak jarang dalam setiap performance yang mereka berikan terkadang mendapatkan upah yang relative murah.Namun demikian mereka tetap semangat.Ini semua mereka lakukan demi mewujudkan kecintaan mereka pada dunia seni sekaligus melestarikan seni budaya Islam yang kini hampir punah.

 

Ditulis Oleh :Administrator SID
Pada : 01 April 2013 01:11:50 WIB

Komentar Artikel Terkait

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar