30 Juli 2013
Wilayah Desa Kabuaran

Wilayah Desa Kabuaran

a. Luas wilayah Desa                :         318               Ha

      b. Luas Pemukiman Penduduk  :           86               Ha

      c. Luas Sawah                          :            8                Ha

      d. Luas Ladang Tegalan            :          76                Ha

      e. Luas Perkebunan                  :        146                Ha

      f. Luas Tambak/Kolam              :            2                Ha

      g. Luas Hutan Negara                :            0                Ha

      h. Batas Desa                                   :

            - Utara                                       : Desa Balingasal

            - Selatan                                    : Desa Pesuningan

            - Timur                                       : Desa Pecarikan

            - Barat                                        : Desa Jembangan

 

 

...

08 April 2013
LOMBA PKK DESA KABUARAN

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-69 PKK Desa Kabuaran menyelenggarakan lomba  yang berlangsung bersamaan dengan Silaturrahmi PKK Desa Kabuaran.Berdasarkan keputusan  rakor PKK Desa Kabuaran pada hari Minggu Kliwon tanggal 20 Juli 2014 telah sepakat mengadakan silaturrahmi dan menyelenggarakan berbagai macam lomba diantaranya lomba menghafal 10 program pokok PKK,lomba mengenakan busana muslim,lomba menghafal asmaul husna,lomba mengenakan hijab tanpa aksesoris,dan yang terakhir  yaitu lomba menyajikan makanan B2SA (Dalam hal ini membuat Kudapan Non Beras ).Dalam Rakor PKK Tingkat Desa yang dipimpin oleh  TP PKK Desa Kabuaran,Ny.RAJINAH  tersebut juga dibahas tentang pelaksanaan lomba,pembentukan panitia lomba,penentuan juri masing –masing lomba dan juga kriteria dari masing-masing lomba yang akan dilaksanakan.

Dari hasil rapat tersebut lalu diumumkan kepada seluruh Ketua PKK Tingkat Rt agar ikut berpartisipasi  mengikuti  lomba yang diselenggarakan oleh TP PKK Desa Kabuaran.Dari masing –masing Rt diharapkan mengirimkan 5 peserta lomba dan dari setiap cabang lomba dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 5.000,00 . Lomba tersebut berlangsung di Balai Desa Kabuaran pada hari Minggu Manis tanggal 10 Agustus 2014 dimulai pada pukul 08.00 Wib s/d selesai. Alhamdulillah pada waktu pelaksanaan lomba bisa berjalan dengan lancar dan diramaikan oleh seluruh Rt di Desa Kabuaran.Dari setiap cabang lomba diraih 4 macam kejuaraan yaitu Juara I,Juara II,Juara III, dan Juara Harapan I.Dan  nantinya penyerahan Hadiah Pemenang Lomba akan diserahkan oleh Beliau Ibu Rajinah selaku TP PKK Desa Kabuaran  pada pertemuan PKK Hari Minggu Kliwon tanggal 24 Agustus 2014 Di Balai Desa Kabuaran.Untuk yang meraih  Juara I kategori lomba Kudapan Non Beras Tingkat Desa akan dikirim ke kecamatan untuk mengikuti Lomba PKK Tingkat Kecamatan.

Warga sangat antusias sekali dengan lomba yang di adakan oleh TP PKK Desa Kabuaran.Warga berharap agar kedepannya bisa terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Kabuaran sehingga nantinya  warga kabuaran bisa unjuk gigi kepada masyarakat sekeliling bahwa Kabuaran juga bisa menunjukkan kreatifitas/keahliannya.Semoga untuk tahun berikutnya PKK Desa Kabuaran bisa menambah cabang lomba PKK yang lebih banyak supaya bisa menggali potensi-potensi yang ada di Desa Kabuaran Tercinta ini.

 

...

01 April 2013
PENGOLAHAN KOPRA

Siapa yang tak kenal dengan Buah Kelapa atau yang biasa disebut Cocos nucifera dalam bahasa latinnya.Kelapa merupakan anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna.Mulai dari akar,kayu,daun,lidi,bunga,dan buahnya semua sangat bermanfaat.

Kelapa secara alami banyak tumbuh di daerah pantai dan pohonnya bisa mencapai ketinggian 30 m. Konon tumbuhan ini berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropis.Sebagai contoh Desa Kabuaran yang juga merupakan salah satu daerah tropis.Di desa banyak terdapat tumbuhan kelapa yang kadang buahnya hanya di jual begitu saja kepada pengepul.

Namun di tangan pengrajin kelapa seperti Bapak Salim Riyadi,’’daging” buah kelapa diolah menjadi kopra dan mampu menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Kopra juga merupakan salah satu produk unggulan di Desa Kabuaran ini.Beliau mulai merintis usahanya sekitar setahun yang lalu.Usaha tersebut memiliki 3 orang tenaga kerja.

Dalam proses pembuatan kopra,setiap butir kelapa di pecah kemudian daging buahnya diambil lalu diparut.Kulit kelapa(bathok) biasanya terbagi menjadi 2 bagian untuk bathok bagian atas digunakan sebagai bahan bakar,bathok bagian bawahnya di jual kepada pengepul untuk dibuat kerajinan.Sedangkan air kelapa yang dihasilkan juga ditampung dan dijual kepada pengrajin nata de coco.Setelah  kelapa selesai diparut,kemudian di press menggunakan alat press manual dan dilanjutkan menggunakan alat press yang lebih canggih agar santan yang dihasilkan benar-benar maksimal.Sisa parutan kelapa kemudian diolah menjadi kethek(blendho).Lalu santan yang dihasilkan dari proses pemerasan tadi kemudian di panaskan di atas tungku menggunakan wajan besar dengan api yang dihasilkan oleh limbah bathok tadi.

Sekitar kurang lebih 8jam proses pemasakan akan menghasilkan minyak mentah.Biasanya dari hasil pengolahan 200 butir kelapa bisa menghasilkan 18 kg Kethek(blendho) dan minyak kelapa sebanyak 17 kg.Namun itu juga tergantung dari besar kecilnya kelapa yang dipergunakan.Harga jual untuk per/kg kethek yaitu Rp 25.000,00 sedangkan minyak kelapa per/kg mencapai Rp 13.000,00.

Pemasaran hasil produksipun tidak susah,tak jarang warga sekitar juga membeli minyak hasil produksi Bpk.Salim Riyadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Minyak kelapa memang berbeda dengan minyak sawit.Selain memiliki aroma yang khas,minyak kelapa juga lebih jernih dibanding minyak-minyak yang lainnya.Dan hasil masakan yang menggunakan minyak kelapa memang lebih terasa gurih/enak menurut para penggemarnya.

Minyak tersebut biasanya dikirim ke pabrik-pabrik minyak Jogjakarta ataupun Semarang yang kemudian akan diolah kembali menjadi minyak kemasan.Proses pengiriman hasil produksi ini biasanya dilakukan setiap 2 hari sekali,ataupun sebanyak pesanan yang diinginkan oleh konsumen.Melihat prospek yang sangat bagus selain bahan baku yang mudah didapat,pengolahan yang tak begitu rumit,serta pangsa pasar yang menjanjikan, maka beliau akan menekuni bisnis ini dengan sungguh-sungguh dan berharap bisa menjadi produk yang diminati oleh seluruh masyarakat.

...

GRUP REBANA AL MUKAROMAH KABUARAN

Kata rebana, konon berasal dari kata “Robana”, yang berarti “Tuhan Kami”. Rebana biasanya disebut juga ”Terbang” dalam istilah Jawa.Instrumen rebana terbuat dari kulit kambing yang dikeringkan.Dahulu Rebana adalah salah satu sarana dakwah yang dikemas dan disajikan lewat lantunan syair dan alunan musik yang bernuansa Islami.Seni rebana tersebut berisi pesan-pesan mulia agar masyarakat mampu menerima dengan mudah isi yang terkandung di dalam seni yang dimiliki oleh rebana tersebut.

Sehingga sampai sekarang, kesenian ini pun sudah melekat pada masyarakat, khususnya para pecinta sholawat.Dahulu kala Rebana hanya ada dalam acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi di era sekarang ini hampir setiap mengadakan acara tasyakuran baik pernikahan, khitanan, kelahiran bayi dan acara-acara yang lainnya, masyarakat menggunakan rebana sebagai hiburan dan juga tuntunan.

Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, banyak ditemukan berbagai jenis alat musik baru yang kehadirannya diharapkan dapat menghibur para penikmat rebana sehingga tidak jenuh dalam mendengarkan kesenian yang satu ini.Gup Rebana Al Mukaromah milik Desa Kabuaran ini misalnya.Grup ini mengkolaborasikan instrumen rebana/terbang dengan ketiplak, keyboard (rhytm & melodi),bass jedor,tamborin, serta drum agar lebih berwarna dalam setiap penampilannya.

Berawal dari pertemuan muslimat yang diadakan setiap minggunya timbullah ide-ide cemerlang untuk membentuk grup rebana yang dipimpin oleh Bapak Turijan.Setelah dibentuk Grup,mereka yang beranggotakan 15 orang sepakat untuk latihan setiap minggunya.Dan dengan tekad dan kerja yang keras alhasil grup rebana Al Mukaromah bisa tampil di acara-acara hajat.Tak terasa sudah berjalan 5 tahunan sejak berdirinya Grup rebana ini.

Dalam perkembangannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.Banyak kendala-kendala yang mereka hadapi.Namun dengan jiwa yang optimis kini mereka bisa mempertahankan eksistensinya di jagad hiburan ini.Usahanya tak luput sampai itu saja,Grup ini sekarang juga mulai mengaransemen lagu-lagunya agar tidak terkesan membosankan.Terkadang juga menyajikan lagu dangdut,campur sari atas permintaan pendengar setianya.

Melihat potensi yang ada di dalam grup ini tidaklah heran jika semakin  banyak tawaran manggung yang mereka dapatkan.Apalagi jika di bulan-bulan Syawal,Besar,Sapar,dan Maulud tiba,jam terbang grup ini akan padat sekali tutur Bapak Turijan.Beliau juga menuturkan jikalau ada pihak-pihak yang ingin membantu demi perkembangan grup ini,akan kami terima dengan senang hati.Meskipun tak jarang dalam setiap performance yang mereka berikan terkadang mendapatkan upah yang relative murah.Namun demikian mereka tetap semangat.Ini semua mereka lakukan demi mewujudkan kecintaan mereka pada dunia seni sekaligus melestarikan seni budaya Islam yang kini hampir punah.

 

PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 70

Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang penuh sejarah bagi bangsa kita yaitu Indonesia.Hari dimana para pejuang membela bangsa kita dengan cucuran keringat dan tumpah darahnya sehingga bisa merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah.Oleh karena itu sebagai warga Indonesia harus berbangga hati atas apa yang telah kita peroleh saat ini. Kita sebagai warga negara harus bisa menghidupkan kembali semangat membara seperti para pejuang kita dalam merebut kemerdekaan ini.

 

Wujud nyata yang bisa kita lakukan diantaranya dengan berpartisipasi mengikuti Upacara bendera Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke- 70.Selain itu merayakannya dengan mengadakan lomba – lomba yang merakyat di desa kita.

 

 Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke – 70 , Pemerintah Desa kabuaran bekerja sama dengan pemuda pemudi yang tergabung dalam wadah Karang Taruna “ Taruna Lestari “   dan ibu-ibu PKK Desa Kabuaran sepakat mengadakan lomba tingkat desa meskipun dari tingkat pedukuhan sudah mangadakan lomba sendiri. Lomba – lomba yang diadakan di tingkat desa merata untuk semua kalangan mulai anak- anak,dewasa,hingga orang tua.Lomba tersebut juga  berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.

 

Jenis lomba yang diadakan antara lain tarik tambang,balap gapyak,lari marathon keliling desa,memasukkan paku dalam botol,membawa kelereng dengan menggunakan sendok,catur,makan krupuk,MC,paduan suara,pentas seni dan panjat pinang.Lomba tersebut diadakan dalam waktu 2 ( dua ) hari . Untuk sesi yang pertama dilaksanakan pada  Hari Senin,tanggal 17 Agustus 2015 setelah upacara bendera.Dan sesi yang kedua pada tanggal 23 Agustus 2015 yang merupakan puncaknya.

 

Acara Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI Ke-70 berlangsung sangat meriah.Semua warga desa berduyun-duyun memadati halaman Balai Desa Kabuaran demi menyaksikan acara yang hanya berlangsung satu kali dalam setiap tahunnya.Acara lebih semarak dikala panjat pinang atau yang biasa disebut pucang  telah dimulai sambil diiringi hiburan dari Group Organ Tunggal yang menyajikan alunan lagu masa kini dengan dua dara yang sangat cantik jelita.

 

            Kami sadar acara ini tidak dapat berjalan lancar dan meriah  tanpa dukungan dari segala pihak dan antusiasme warga desa.Oleh karena itu,kami ucapkan banyak terima kasih atas semua warga yang terlibat dalam upaya Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-70.Semoga dengan terselenggaranya acara tersebut dapat menjalin tali sillaturahmi dan meningkatkan kerukunan antar warga sehingga dapat mempererat persatuan di Desa kita tercinta. Majulah Indonesiaku.MERDEKA….. MERDEKA….. MERDEKA !!!!!!

 

MERDI BUMI DESA KABUARAN

Merdi Bumi biasa juga disebut  dengan Merdi Desa. Namun di desa kami lebih akrab dengan sebutan Merdi Bumi.Selain itu Merdi  Bumi juga dapat diartikan dengan Selamatan Desa atau pesta rakyat yang biasanya dilakukan rutin setahun sekali sebelum musim tanam penghujan tiba.

Pesta ini bukanlah ajang untuk pesta pora ataupun hura-hura namun pesta ini tak lain bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya dan harapan agar segala tanaman terhindar dari hama penyakit serta memohon keselamatan Kepada Allah Swt agar dapat terhindar dari segala mara bahaya dan juga bencana alam.

                Masyarakat di Desa kami merayakan acara Merdi Bumi dengan sedekah bumi atau tasyakuran.Kegiatan Merdi Bumi biasanya  diselenggarakan di Balai Desa oleh Panitia yang sudah dibentuk melalui musyawarah desa.Adapun acara yang berlangsung yaitu penyembelihan kambing,tahlil,serta pagelaran Wayang Kulit dan diakhir acara Merdi Bumi ditutup dengan Do’a bersama.

                Dalam acara Merdi Bumi selalu menghadirkan Acara Pagelaran Wayang Kulit.Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya bangsa yang mempunyai nilai estetika tinggi dalam setiap penyajiannya.

Belum lama ini tepat pada hari Rabu-Kamis tanggal 26-27 Agustus 2015,desa kami merayakan acara Merdi Bumi dengan hiburan Pagelaran Wayang Kulit oleh “Ki Dalang Basuki” dari Ambal.Tema yang diambil dalam pagelaran Wayang Kulit tersebut yaitu “SEMAR BOYONG”.Pagelaran wayang  tersebut juga sekaligus menjadi  salah satu hiburan pada HUT Kemerdekaan RI yang ke-70.Alhamdulillah acara tersebut berlangsung meriah karena dihadiri oleh tamu undangan yang jumlahnya fantastis dari tahun sebelumnya. Dan akhirnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini karena acara bisa berjalan lancar dan sukses.Semoga dengan adanya kegiatan ini bisa mempererat rasa persatuan kita dan selalu menjunjung tinggi nilai – nilai budaya kita yang hampir punah agar kelak bisa diwariskan atau dinikmati oleh para anak cucu kita.

               

               

               

 

 

SEJARAH DESA KABUARAN

Desa Kabuaran adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Prembun.Desa ini terletak paling utara diantara desa-desa yang lain dalam satu kecamatan.Masa pemerintahan desa kabuaran sampai saat ini mengalami 12 kali pergantian Kepala Desa :

  1. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Hudajaya
  2. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Wiranaya
  3. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Wirantana
  4. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Wangsamijaya
  5. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Nder
  6. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk Tamin
  7. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Hudopawiro
  8. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Kasmin Hudowiyono
  9. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Paijan
  10. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Parno Ismail
  11. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Soleman Yudi
  12. Pemerintahan yang dipimpin oleh Bpk. Muhardi

Desa Kabuaran juga memiliki 7 makam keramat yang sampai saat ini masih terkenal diantaranya :

  1. Makam Mbah Jontrot yang terletak di Dukuh Begedogan Wetan
  2. Makam Mbah Abu Leksono yang terletak di Blok Widara Payung Beg. Wetan
  3. Makam Mbah Juru Tulis yang terletak di Dukuh Kepek
  4. Makam Mbah Mangundrana yang terletak di Blok Si Kethu Kepek
  5. Makam Mbah Kyai Geseng yang terletak di Begedogan Kulon
  6. Makam Mbah Nalawijaya yang terletak di Dukuh Bedegolan
  7. Makam Mbah Demam Maduseno yang terletak di Blok Si Geni Juru Tengah

 

Beliau-beliaulah pejuang pendahulu yang telah tiada,yang rela berperang demi mendapatkan Desa Kabuaran.Dahulu Desa ini masih bernama Desa Kabiworo.Sesuai dengan penuturan dari beliau Bapak Mantan Kepala Desa Kabuaran Bapak H. Kasmin Hudowiyono, bahwa pada tahun l9l8 ada seseorang dari Kerajaan Mataram Yogyakarta yang bernama Mbah Demam Maduseno (Wirogati I). Beliau adalah orang yang memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda pada masa itu. Setiap hari hanya perang dan perang demi mempertahankan daerah tersebut..

 

Hingga suatu ketika beliau dan pengikutnya terdesak sehingga terpaksa menyerah dan  bergabung tanpa sarat kepada Belanda.Namun setelah itu Pemerintah Belanda memberikan lahan/ hutan untuk dijadikan perkampungan. Daerah tersebut dibuka dengan cara Pembabatan Lahan dan Pembakaran lahan.Setelah itu beliau Mbah Demam Maduseno mengumumumkan kepada warganya bahwa Daerah yang dibabat dan di bakar itu dinamakan  Desa Kabuaran.Yang awal mulanya berasal dari kata kabur tanpa arang karena akibat pembakaran lahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGOLAHAN KOPRA

Siapa yang tak kenal dengan Buah Kelapa atau yang biasa disebut Cocos nucifera dalam bahasa latinnya.Kelapa merupakan anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna.Mulai dari akar,kayu,daun,lidi,bunga,dan buahnya semua sangat bermanfaat.

Kelapa secara alami banyak tumbuh di daerah pantai dan pohonnya bisa mencapai ketinggian 30 m. Konon tumbuhan ini berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropis.Sebagai contoh Desa Kabuaran yang juga merupakan salah satu daerah tropis.Di desa banyak terdapat tumbuhan kelapa yang kadang buahnya hanya di jual begitu saja kepada pengepul.

Namun di tangan pengrajin kelapa seperti Bapak Salim Riyadi,’’daging” buah kelapa diolah menjadi kopra dan mampu menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Kopra juga merupakan salah satu produk unggulan di Desa Kabuaran ini.Beliau mulai merintis usahanya sekitar setahun yang lalu.Usaha tersebut memiliki 3 orang tenaga kerja.

Dalam proses pembuatan kopra,setiap butir kelapa di pecah kemudian daging buahnya diambil lalu diparut.Kulit kelapa(bathok) biasanya terbagi menjadi 2 bagian untuk bathok bagian atas digunakan sebagai bahan bakar,bathok bagian bawahnya di jual kepada pengepul untuk dibuat kerajinan.Sedangkan air kelapa yang dihasilkan juga ditampung dan dijual kepada pengrajin nata de coco.Setelah  kelapa selesai diparut,kemudian di press menggunakan alat press manual dan dilanjutkan menggunakan alat press yang lebih canggih agar santan yang dihasilkan benar-benar maksimal.Sisa parutan kelapa kemudian diolah menjadi kethek(blendho).Lalu santan yang dihasilkan dari proses pemerasan tadi kemudian di panaskan di atas tungku menggunakan wajan besar dengan api yang dihasilkan oleh limbah bathok tadi.

Sekitar kurang lebih 8jam proses pemasakan akan menghasilkan minyak mentah.Biasanya dari hasil pengolahan 200 butir kelapa bisa menghasilkan 18 kg Kethek(blendho) dan minyak kelapa sebanyak 17 kg.Namun itu juga tergantung dari besar kecilnya kelapa yang dipergunakan.Harga jual untuk per/kg kethek yaitu Rp 25.000,00 sedangkan minyak kelapa per/kg mencapai Rp 13.000,00.

Pemasaran hasil produksipun tidak susah,tak jarang warga sekitar juga membeli minyak hasil produksi Bpk.Salim Riyadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Minyak kelapa memang berbeda dengan minyak sawit.Selain memiliki aroma yang khas,minyak kelapa juga lebih jernih dibanding minyak-minyak yang lainnya.Dan hasil masakan yang menggunakan minyak kelapa memang lebih terasa gurih/enak menurut para penggemarnya.

Minyak tersebut biasanya dikirim ke pabrik-pabrik minyak Jogjakarta ataupun Semarang yang kemudian akan diolah kembali menjadi minyak kemasan.Proses pengiriman hasil produksi ini biasanya dilakukan setiap 2 hari sekali,ataupun sebanyak pesanan yang diinginkan oleh konsumen.Melihat prospek yang sangat bagus selain bahan baku yang mudah didapat,pengolahan yang tak begitu rumit,serta pangsa pasar yang menjanjikan, maka beliau akan menekuni bisnis ini dengan sungguh-sungguh dan berharap bisa menjadi produk yang diminati oleh seluruh masyarakat.